Senin, 01 Juli 2024

Profil Padukuhan Kayen

 PADUKUHAN KAYEN 

Gambar: Gapura Padukuahan Kayen

 

Sebelum tahun 1937, padukuhan Kayen hanyalah tanah belantara yangtandus dan gersang, tidak ada air atau sumur bahkan mata air untuk kehidupan.Padasuatuhari,datanglah sepasang suami-istri dari wilayah Kulon Progo,tepatnya di padukuhan Paten, Ngentak Rejo, Kulon Progo, DIY. Bernama Pawiro Yudo. Setelah lama menetap, lahirlah beberapa anak mereka, di antaranya; Karyo Menggolo dan Kariyo Dimejo. Karyo Menggolo mempunyai anak yaitu Karyo Sentono dan Omo Senjoyo. Ketika semua anaknya telah menginjak dewasa, ada salah satu anaknya yang melamar menjadi abdi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang bernama Karyo Sentono. Jabatan terakhirnya adalah uluulu. Setelah lama mengabdi, beliau menikah dan lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Setro Setomo.

Tujuh belas tahun kemudian, di barat rumah Karyo Sentono radius 300 meter terjadilah keajaiban alam di daerah dataran rendah. Sebuah mata air muncul dengan sangat deras sampai meluap di sekitar pekarangan warga. Karena bingung dan panik, Karyo Sentono berteriak-teriak. Warga yang mendengarnya langsung mendekat ke lokasi kejadian. Ketika melihat kejadian tersebut tampak raut wajah mereka bercampur banyak rasa, antara senang, haru, dan cemas. Namun semua berteriak, “khayunkhayun… (bahasa arab, berarti hidup), urip…urip…”Karena kejadian tersebut, dengan spontan masyarakat menyebut wilayahnya pedukuhan Khayun, atau yang sekarang biasa disebut atau ditulis pedukuhan Kayen. Namun dengan keadaan mata air yang masih keluar dengan sangat deras tadi, Karyo Sentono dan warga sekitar masih bingung bagaimana cara mengendalikannya.

Akhirnya dengan kesepakatan masyarakat, Karyo Sentono diminta untuk melaporkan kejadian tersebut kepihak Keraton Ngayogyakata Hadiningratdengan alasan beliau adalah abdi dalem di sana. Setelah adanya laporan dari Karyo Sentono, datanglah pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke lokasi kejadian. Kemudian, entah dengan alasanapa, ditutuplah mata air yang keluar dengan sangat deras tadi dengan salah satualat musik (gamelan) yang disebut Gong Ledek (dinamai gong ‘Ledek’ karena diwilayah tersebut sering ada pengamen ledek atau mbarang ledek dari GunungKidul yang sering bermalam dari satu tempat ke tempat lain). Akhirnya, setelahditutup dengan gong tersebut, mata air yang deras itu bisa dikendalikan. Karena kejadian tersebut, pihak Keraton Nayogyakarto Hadinigrat memberi nama tempatmata air itu dengan Sendang Ngembel’, yang sampai sekarang airnya masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Berdasarkan kejadian tersebut, berdirilah pedukuhan‘Khayun’atau‘Kayen’ sejak tanggal 03 Mei 1937 dengan kepala dukuhnya yang pertama Bapak Serto Setomo, anak kandung dari Karyo Sentono, cucu buyut dari Pawiro Yudo (cikal bakal pedukuhan Khayun atau Kayen). Sumber cerita berasal dari kasepuhan dan dari anak dukuh pertama padukuhan Kayen. Letak geografis Padukuhan Kayen , memiliki wilayah bagian barat perbatasan dengan Padukuhan Beji Wetan, wilayah utara perbatasan dengan Padukuhan Bungsing Kalurahan Guwosari, wilayah timur perbatasan dengan Kedung Kalurahan Guwosari, wilayah selatan perbatasan dengan Padukuhan Jetis, kepala kewilayahan Kayen dipimpin oleh Bapak Rusmidi. Kayen memiliki beragam kebudayaan, diantaranya yaitu; Adat dan Tradisi, Kesenian dan Permainan Rakyat, Kerajinan Kuliner dan Obat Tradisional, Bahasa Sastra dan Aksara Jawa, serta Penataan Ruang Bangunan dan Warisan Budaya.

Profil Padukuhan Panjangan

 PADUKUHAN PANJANGAN

Gambar: Pendopo Padukuhan Panjangan

 

Padukuhan Panjangan merupakan salah satu padukuhan yang ada di wilayah sebelah utara dari balai Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta. Padukuhan Panjangan memiliki luas wilayah sekitar 15 hectar dan terbagi menjadi 6 (enam) RT. Secara administratif, padukuhan panjangan berbatasan langsung dengan padukuhan Kalakijo yang termasuk wilayah kalurahan Guwosari disebelah timur, padukuhan Ngeblak disebelah selatan, padukuhan jetis disebelah barat dan berbatasan dengan padukuhan kedung di sebelah utara. Padukuhan Panjangan saat ini dipimpin oleh Bapak Ngatimin, A.md sebagai kepala wilayah Padukuhan Panjangan.

Menurut cerita, sejarah asal muasal nama padukuhan panjangan masih belum ditemukan, karena belum adanya sumber informasi yang dapat diakses kebenarannya. Namun menurut cerita dari sesepuh padukuhan panjangan, nama panjangan pada jaman dahulu diambil dari legenda 3 (tiga) orang Punggawa yang berasal dari kerajaan majapahit dahulu kala. Tiga orang Punggawa tersebut adalah Kiai Panjang Rejo, Kiai Panjang Gati dan Kiai Panjang Kenanga yang merupakan sahabat dari Panembahan Bodo.

Pada jaman dahulu, zaman disaat penjajahan Jepang banyak terjadi kerja rodi (kerja paksa). Lalu ketiga Punggawa tersebut memutuskan untuk pergi ke daerah pegunungan Makam Sewu untuk menyusun strategi guna menghadapi para penjajah yang saat kejam dan menyengsarakn rakyat. Kemudian tanpa berfikir panjang, salah satu dari Punggawa tersebu yaitu Kiai Panjang Rejo yang sangat sakti dapat lolos dari kepungan para penjajah.selain itu Kiai Panjang Rejo memiliki tombak yang sakti mandraguna yang bernama Tombak Karang Welang. Dikarenakan pada saat itu banyak terjadi kerja rodi/ kerja paksa, para petani dipekerjakan dan tidak diberi upah yang kemudian hasil panen tersebut diserahkan pada penjajah sehingga banyak terjadi kelaparan bahkan tidak sedikit dari masyarakat yang menderita kelaparan kemudia meninggal dunia. Maka dari itu untuk menghindari hal tersebut Kiai Panjang Rejo melakukan tapa brata di grojokan selo (untuk sekarang kerebardaannya didekat dengan makam sewu). Setelah tiga hari tiga malam beliau mendapat petunjuk dari Sang Hyang Maha Tunggal untuk *babat alas* berjalan sambil menggariskan menggunakan Tombak Karang Welang mengelilingi daerah diwilayah kampungnya. Alhasil dengan laku tersebut alas tempat tinggal Kiai Panjang Rejo yang semula terlihat subur menjadi kelihatan kering kerontang dimata penjajah. Sehingga dapat mengelabuhi para penjajah dan membuat desa tersebut terbebas dari penjajah. seiring berjalannya waktu lama kelamaan bekas dari coretan garis Tombak Karang Welang milik Kiai Panjang Rejo tersebut menjadi sungai yang sampai sekarang difungsikan sebagai tempat aliran air untuk irigasi. Selain hal tersebut sungai/parit itu menjadi perbatasan/ patokan untuk padukuhan Panjangan. Tidak ada yang tau pasti akhir dari perjalanan Kiai Panjang Rejo selanjutnya. Kemudian saat beliau wafat, beliau dikebumikan dengan makam tersendiri dipersawahan padukuhan Panjangan tepatnya terletak diwilayah RT 05 padukuhan Panjangan. Konon dari mitos tersebutlah asal muasal nama padukuhan Panjangan terlahir. Padukuhan panjangan juga memiliki potensi budaya yang cukup menarik dan masih dilestarikan hingga saat ini. 

Profil Padukuahan Jetis

 PADUKUHAN JETIS

Gambar: Gapura Padukuhan Jetis

 Padukuhan Jetis merupakan padukuhan yang ada di Kalurahan Sendangsari. Secara geografis Padukuhan Jetis merupakan padukuhan yang paling berdekatan dengan kalurahan Sendangsari. Padukuhan Jetis terbagi menjadi 6 RT, dan memiliki luas wilayah sekitar 36 hectar. Padukuhan Jetis berbatasan langsung disebelah timur dengan wilayah Padukuhan Panjangan dan Pandak. Kemudian untuk sebelah utara berbatasan dengan wilayah Padukuhan Kayen, sebelah barat dengan Padukuhan Kunden dan sebelah selatan berbatan langsung dengan Padukuhan Benyo. Saat ini Padukuhan Jetis dipimpin oleh Bapak Heksa Sunarya A.Md.

            Menurut tutur cerita dari sesepuh padukuhan Jetis, asal usul nama Jetis terjadi sekitar abad 15. Pada saat itu kanjeng Panembahan Bodo yang merupakan seorang Sultan, nama lain dari kanjeng Panembahan Bodo yaitu Sultan Trenggono yang merupakan keturunan seorang Raja sedang melakukan syiar agama yang melewati padukuhan Jetis. Pada waktu itu kanjeng Panembahan Bodo beserta para santrinya keliling melakukan syiar agama disekitar wilayah padukuhan Kauman. Kanjeng Panembahan Bodo melakukan perjalanan dari arah Padukuhan Kauman menuju arah Padukuhan Pijenan. Pada jaman dahulu wilayah Pijenan masih berupa hutan, yang pada jaman dahulu terkenal dengan sebutan hutan Wijen. Lalu bergesernya waktu para sesepuh menyebutnya dengan daerah Pawijenan, yang sampai sekarang dikenal dengan nama Pijenan. Kemudian lanjut ke wilayah Ngeblak dan tiba di wilayah Jetis.

Konon cerita pada waktu itu padukuhan Jetis merupakan dataran paling rendah. Karena letaknya yang rendah ketika musim hujan menjadi tempat yang penuh dengan genangan air. Memiliki udara yang dingin, sehingga ketika musim hujan para sesepuh sangat merasakan dingin. Keadaan yang masih berupa hutan dataran rendah dan memiliki suasana yang dingin para sesepuh yang singgah di padukuhan Jetis sering mengatakan dalam bahasa jawa “panggonane atis” yang dalam bahasa indonesia berarti tempat yang sangat dingin. Dengan kata lain pemberian nama Jetis, dilatarbelakangi dengan keadaan wilayah Jetis pada jaman dahulu. Padukuhan Jetis memiliki potensi budaya yang cukup menarik dan masih dilestarikan hingga saat ini. 

Profil Padukuhan Benyo

PADUKUHAN BENYO

Gambar: Gapura Padukuhan Benyo

Padukuhan Benyo merupakan padukuhan yang ada di wilayah Kalurahan Sendangsari. Padukuhan Benyo memiliki luas wilayah yang cukup luas yaitu 37,8 hectar, dan terbagi di sembilan RT. Secara administratif kalurahan, Padukuhan Benyo berbatasan langsung dengan padukuhan Pijenan yang merupakan masuk wilayah Kalurahan Wijirejo dan padukuhan Jetis untuk wilayah Kalurahan Sendangsari. Kemudian untuk batas wilayah disebelah utara berbatasan langsung dengan padukuhan Kunden, lalu berbatasan langsung dengan padukuhan Kunden untuk sebelah barat dan diikuti dengan batas Sungai Bedok untuk wilayah di sebelah Selatan.Kepala kewilayahan Padukuhan Benyo dipimpin oleh Bapak Surinto, A.Md.


Menurut tutur cerita sesepuh yang berkembang di masyarakat, sejarah muasal nama padukuahan Benyo berkaitan erat dengan sejarah dari Nyai Brintik yang makamnya ada di Karang Padukuhan Kauman Wijirejo Pandak Bantul. Nyai Brintik merupakan istri dari Panembahan Bodo yang di makamkan di Makam Sewu, Wijirejo, Pandak, Bantul. Nama Benyo berasal dari kata “beno” dalam bahasa jawa artinya adalah “banjir”. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran penyebutan ditengah masyarakat setempat kata “beno” menjadi “benyo”. Kono katanya cerita tersebut bermula pada saat Nyai Brintik wafat dan akan dimakamkan di pemakaman Makam Sewu. Semasa hidupnya Nyai Brintik yang tinggal di Kauman wilayah Kalurahan Gilangharjo, ketika wafat akan dimakamkan di MakamSewu tepat disamping makam suaminya yaitu Ki Panembahan Bodo. 

Namun diperjalanan menuju pemakaman Makam Sewu saat akan menyebrangi kali Bedog pada saat itu sedang dalam kondisi banjir yang luar biasa, banjir dalam bahasa jawa beno. Karena itu Nyai Brintik di makamkan di sebelah barat padukuhan Kauman yang saat ini dinamakan dengan padukuhan Karang. Pada saat itu timbul banyak pertanyaan kenapa makam Nyai Brintik tidak di makamkan disamping suaminya yaitu ki Panembahan Bodo di Makam Sewu. Sebuah pertanyaan dalam bahasa jawa. “Ngopo Nyai Brintik kok ora dimakamke amor Panembahan Bodo, kok malah di makamke nang papan kene?”, lalu dijawab oleh beberapa tokoh dengan jawaban didalam bahasa jawa “ora iso nyabrang kali bedog karang beno”. Kata karang beno tersebut memiliki arti dalam bahasa (karang= karena, beno=banjir). Sejak saat itu kata karang dan beno menjadi nama dua wilayah di utara dan selatan sungai Bedog. Wilayah selatan tempat Nyai Brintik dimakamkan menjadi padukuhan Karang, dan sebelah utara sungai Bedog menjadi padukuhan Benyo yang berasal dari kata Beno. Padukuhan Benyo memiliki potensi budaya yang cukup menarik dan masih dilestarikan hingga saat ini. Adapun tradisi dan aneka budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini.

Profil Kalurahan Budaya Sendangsari


 

KALURAHAN SENDANGSARI

 

Kalurahan merupakan sebuah persekutuan hukum pribumi yang terkecil, yaitu meliputi; kekuasaan sendiri dan kekayaan atau pendapatan sendiri. Persekutuan hukum pribumi di sini mencakup hukum adat yang tumbuh dengan sendirinya dan mempunyai dasar tradisional serta lainnya menjadi anggota. Untuk mengetahui lebih rinci mengenai Kalurahan Sendangsari, maka perlu melihat latar belakang pendirian Kalurahan, Pemerintah Kalurahan, Undang-undang yang mengatur, dan asal-usulnya.

Pemerintah Kalurahan digaji dengan penghasilan tetap dan tambahan kesejahteraan berupa tanah pelungguh, yaitu tanah yang dibebaskan dari pajak, karena asas hukum yang menetapkan bahwa semua tanah milik Sultan. Mereka telah diberi wewenang untuk mengelola dan mengatur sendiri. Dalam perkembangannya, yaitu sejak 1946 samapai saat ini telah terjadi perubahan-perubahan yang sangat signifikan. Pemerintah yang awalnya menganut sistem kerajaan berubah menjadi sistem yang menganut demokrasi, yaitu sistem yang lebih berkiblat pada budaya barat. Perubahan ini tidak hanya terjadi di tingkat nasional saja, akan tetapi juga berpengaruh pada pemerintah Kalurahan, termasuk Kalurahan Sendangsari.

Di Kalurahan Sendangsari juga terjadi perubahan nama dan pusat pemerintahan. Pada masa penjajahan, wilayah Kalurahan Sendangsari terdiri dari dua kalurahan yaitu Ex Kalurahan Krebet dan Kalurahan Manukan. 1) Ex Kalurahan Krebet merupakan pusat pemerintahan kalurahan yang berada di padukuhan Beji, Lurah pertama adalah Karto Simejo. Kalurahan Krebet membawahi Padukuhan Benyo, Jetis, Panjangan, Kayen, Beji Kulon, Beji Wetan, Gupak Warak, Dadap Bong, Krebet, Kabrokan Wetan, dan Kabrokan Kulon. 2) Kalurahan Manukan membawahi padukuhan Kunden, Kamijoro, Manukan, Jaten, Mangir Lor, Mangir Tengah, dan Mangir Kidul.

Sendangsari merupakan penggabungan kedua kalurahan tersebut. Nama Sendangsari diambil karena ada dua sumber mata air yang terletak di dusun Beji Wetan dan Dusun Kunden. Sumber mata air biasa disebut “Sendang”. Kemudian kata “Sari” bisa diartikan sebagai inti, yaitu inti dari dua kalurahan tersebut yang sama-sama memiliki sendang atau mata air. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa Sendangsari adalah Kalurahan yang mempunyai intisari sumber mata air. Air merupakan salah satu sumber kehidupan yang tidak pernah lekang oleh zaman. Hal tersebut juga terlihat dengan keberadaan air sendang Ngembel Beji dan Sendang Kunden yang senantiasa memberi manfaat pada masyarakat dan berguna bagi kehidupan lingkungan di sekitarnya.

Kalurahan Sendangsari pertama kali memperingati hari jadinya yang ke-64 atau (8 Windu) pada Tanggal 23 November 2010. Di ulang tahun Kalurahan Sendangsari yang ke-68 pada tanggal 23 November 2014, untuk pertama kalinya Upacara Hari Jadi Kalurahan Sendangsari dimeriahkan dengan serangkaian kegiatan Kirab Budaya, Ranting Air Kendi dari Sendang, Mujahadah, Pentas Seni Budaya, dan kegiatan lainnya. Dalam menjalankan pemerintahannya, Kalurahan Sendangsari mengacu pada Perda No.7 Tahun 1963 yang dikeluarkan oleh GR DIY, yaitu tata pemerintahan dan hubungan mulai diberlakukan antara Kalurahan dengan Pusat bahkan dengan DPRD. Perda No.7 Tahun 1963 ini mengatur tentang Jabatan Lurah. Berikut ini Lurah yang pernah menjabat kepemimpinan di Kalurahan Sendangsari.

 

1.      Tahun 1946 – 1947 Kalurahan Sendangsari dipimpin oleh Lurah Tondo Gono

2.      Tahun 1948 – 1962 Kalurahan Sendangsari dipimpin oleh Lurah H. Dalhar     

3.      Tahun 1963 – 1984 Kalurahan Sendangsari dipimpin oleh Lurah Hadi Sumarto

4.      Tahun 1985 – 1995 Kalurahan Sendangsari dipimpin oleh Lurah Supandi

5.      Tahun1995 – 2013 Kalurahan Sendangsari dipimpin oleh Lurah Sapta Sarosa, S.Psi

6.      Tahun 2014 – 2020 Kalurahan Sendangsari dipimpin oleh Lurah Muhammad Irwan Susanto, S.T.

7.       Tahun 2021 – 2028 Kalurahan Sendangsari dipimpin oleh Lurah Durori, S.Pd.I.,M.Pd.

 

            Kalurahan Sendangsari merupakan bagian terintegrasi dari wilayah Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalurahan Sendangsari memiliki wilayah seluas 1.307.105,00 Ha/m2 yang secara administratif pemerintahan Kalurahan terbagi dalam 18 Padukuhan, dengan penduduk laki-laki 630 jiwa, perempuan 6227 jiwa. Jumlah laki-laki dan perempuan 12.530 jiwa, tercatat pada tanggal 21 Mei 2021. Untuk lebih jelasnya mengenai wilayah administrasi Kalurahan Sendangsari diuraikan sebagai berikut.

 

A.    Kondisi Umum Kalurahan Sendangsari

Kondisi umum Kalurahan Sendangsari mencakup batas wilayah, keadaan topografi, keadaan hidrologi, keadaan geologi, dan data padukuhan serta nama dukuh di Tahun 2021. Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi umum Kalurahan Sendangsari diuraikan sebagai berikut.

 

1.      Batas Wilayah

Wilayah Kalurahan Sendangsari yang memiliki luas wilayah sekitar 1.307.105,00 Ha/m2. Batas-batas wilayah Kalurahan Sendangsari adalah sebagai berikut.

a.       Sebelah Utara                   : Kalurahan Triwidadi, Kecamatan Pajangan.

b.      Sebelah Selatan                 : Kalurahan Triharjo, Kecamatan Pandak

c.       Sebelah Barat                    : Sungai Progo, Kabupaten Kulon Progo

d.      Sebelah Timur                   : Kalurahan Wjirejo, Kecamatan Pandak

 

2. Keadaan Topografi Kalurahan Sendangsari

Kalurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul terletak di Wilayah Bantul bagian barat dengan kondisi topografinya dataran tinggi dengan ketinggian + 100m dpl. Kawasan Kalurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul merupakan 70% daerah perbukitan dan 30% dataran rendah.

 

3.      Keadaan Hidrologi Kalurahan Sendangsari

Kalurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul dilalui oleh saluran pengairan Bendung Kadisono dan Bendung Ewon yang baru saja selesai dibangun pada tahun 2015. Kedua bendung ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air pertanian, perikanan dan air tanah sehingga perkembangan sektor pertanian dan perikanan bisa maksimal. Pembangunan kedua bendung ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan irigasi pertanian dengan kebutuhan masing-masing Kalurahan, yaitu kira-kira Kalurahan Guwosari 15 Hektar, Kalurahan Wijirejo 11 Hektar, dan Kalurahan Sendangsari 65 Hektar.

 

4.      Keadaan Geologi Kalurahan Sendangsari

Wilayah Kalurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul secara umum merupakan satuan dataran tinggi dengan kondisi tanah liat dan sebagian besar  perbukitan.

 

5.      Data Nama Padukuhan dan Dukuh Kalurahan Sendangsari Tahun 2021

Berikut ini merupakan data nama Padukuhan dan dukuh yang memimpin di Kalurahan Sendangsari pada Tahun 2021.

 

No.

Nama Pedukuhan

Nama Dukuh

1

Benyo

Surinto, A.Md..

2

Panjangan

Ngatimin, A.Md.

3

Jetis

Heksa Sunarya, A.Md.

4

Kayen

Rusmidi

5

Beji Wetan

Jumapar

6

Beji Kulon

Suroto

7

Kabrokan Kulon

Sarwidi

8

Kabrokan Wetan

Nor Wahit, A.Md.

9

Dadap Bong

Munthoha, A.Md.

10

Krebet

Kemiskidi

11

Gupak Warak

Muhammad Farkhan

12

Kamijoro

Felix Supriasto, S.E.

13

Kunden

Margiyanto

14

Jaten

Frangky Yoga Anggara

15

Manukan

Muhammad Abdul Rahman

16

Mangir Lor

Novi Lani Astuti, S.Pd.

17

Mangir Tengah

Sumardi, A.Md.

18

Mangir Kidul

Hendri Setiyawan, A.Md.

 

B.     Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Budaya Penduduk

Kondisi sosial, ekonomi, dan budaya penduduk Kalurahan Sendangsari terdiri dari kondisi sosial, kondisi ekonomi, dan kondisi budaya serta pariwisata. Untuk lebih jelasnya mengenai hal tersebut dijelaskan berikut ini.

 

  • 1.      Sosial

Secara umum kondisi sosial masyarakat di Kalurahan Sendangsari cukup tertata. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kelompok-kelompok sosial baik tingkat padukuhan maupun tingkat Kalurahan yang sudah ada di Kalurahan Sendangsari. Kelompok sosial yang telah ada di Kalurahan Sendangsari antara lain adalah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMKal), Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Karang Taruna, Rukun Tetangga (RT), Dasa Wisma, Kelompok-Kelompok Arisan/Simpan Pinjam, Kelompok Jimpitan, Perpolisian Masyarakat, dan Kelompok Gotong-Royong. Kegiatan sosial juga berlangsung dengan baik walaupun tidak terstruktur secara formal, seperti melekatnya budaya gotong-royong di seluruh padukuhan yang ada di Kalurahan Sendangsari.

 

  • 2.      Ekonomi

Secara perekonomian, Kalurahan Sendangsari masih mengandalkan sektor pertanian dan usaha. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya penduduk yang mempunyai mata pencaharian di kedua sektor tersebut. Sektor pertanian terbagi dua, penduduk sebagai petani dan sebagai buruh tani. Pertanian masih dominan di semua padukuhan di Kalurahan Sendangsari. Pertanian meliputi tanaman padi dan polowijo. Sektor usaha yang ada antara lain kerajinan, peternakan ayam, peternakan bebek, sapi dan kambing, perikanan, industri rumah tangga, jasa (bengkel, photo kopi, rental, dan lain sebagainya). Permasalahan peningkatan usaha ekonomi rakyat sangat kompleks, namun sekarang kondisi perekonomian rakyat di Kabupaten Bantul dan di Kalurahan Sendangsari pada khususnya sudah mulai bangkit dan membaik.

Banyak bantuan yang datang baik dari pemerintah maupun lembaga non pemerintah lainnya yang turut membantu peningkatan pendapatan perekonomian rakyat dengan program-program yang sesuai potensi di masyarakat. Saat ini meskipun belum mempunyai pasar tradisional tapi warga masyarakat tetap berusaha menciptakan pasar-pasar kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Masyarakat Kalurahan Sendangsari yang bekerja dan mencari nafkah di berbagai sektor sudah mulai normal kembali, sehingga perekonomiannya berangsur-angsur membaik, meskipun belum optimal.

 

  • 3.      Budaya dan Pariwisata

Masyarakat Kalurahan Sendangsari masih sangat kental dalam melestarikan adat budaya warisan nenek moyang bangsa Indonesia khususnya kebudayaan jawa Kraton Yogyakarta. Dalam Kehidupan sehari-hari tercermin perilaku Jawa Islam dengan tata krama yang sangat dijunjung tinggi, seperti adat bertamu, adat bertutur kata, adat berpakaian, adat bermusyawarah, dan sebagainya. Budaya khas yang masih rutin dilaksanakan dengan baik warga masyarakat Kalurahan Sendangsari di antaranya budaya gotong-royong, selamatan, merti dusun. Berbagai kegiatan seni budaya juga masih berjalan dan dilaksanakan di Kalurahan Sendangsari di antaranya, Merti Dusun, Nyadran, Tirakatan, Kenduri, Sholawat Barjanji, Mocopatan, Hadroh, dan lain sebagainya.

Sementara potensi kesenian yang ada di Kalurahan Sendangsari juga tetap dikembangkan dan dilestarikan antara lain karawitan, reog, jatilan, wayang kulit, teater, campur sari, solawatan, hadroh, kethoprak, dan mocopat. Pelestarian seni dan budaya tersebut sangat penting karena didukung juga oleh Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dengan dimasukkannya ke dalam perencanaan dan pembangunan Kalurahan, melalui kelompok-kelompok pemberdayaan seni dan budaya tersebut. Di wilayah Kalurahan Sendangsari sendiri banyak kegiatan yang menunjang kepariwisataan dan pelestarian seni budaya diadakan rutin setiap tahun seperti di dusun krebet ada Grebeg Krebet, Umbul Do’a Puja Basuki di Tapak Tilas Ki Ageng Mangir rutin di setiap bulan Sura, Bersih Dusun atau Mejemukan yang diadakan setelah panen setahun sekali dengan menggelar pertunjukan wayang kulit di beberapa dusun.

Untuk potensi wisata di dusun Mangir terdapat Petilasan Ki Ageng Mangir, yang dalam sejarahnya adalah salah satu dusun tertua di Bantul. Selain situs mangir, di Ngancar dusun Mangir Kidul juga terdapat wisata kuliner khas Wader Goreng dan Gudeg Manggar yang dalam sejarahnya Gudeg Manggar tersebut dibuat pertama kali oleh Ratu Pembayun di dusun Mangir. Kemudian di dusun Kabrokan Kulon dan Krebet terdapat wisata alam berupa air terjun dengan dikelilingi rimbunnya pepohonan khas daerah perbukitan. Di dusun Beji Wetan juga terdapat potensi wisata alam dan sejarah berupa Sendang Ngembel yang mata airnya tidak pernah kering dan digunakan untuk irigasi lahan pertanian di Kalurahan Sendangsari.

 

C.    Kondisi Lingkungan dan Tata Guna Lahan

Kondisi lingkungan dan tata guna lahan di Kalurahan Sendangsari yang pertama mencakup kondisi lingkungan dan Sumber Daya Alam, kemudian yang kedua melingkupi Perumahan, Sarana atau Prasarana Permukiman, dan Insfrastruktur Umum. Berikut ini penjelasan mengenai kondisi lingkungan dan tata guna lahan di Kalurahan Sendangsari.

 

  • 1.      Kondisi Lingkungan dan Sumber Daya Alam

Lingkungan yang ada di Kalurahan Sendangsari sudah tertata dengan cukup baik walaupun masih bisa dilihat ada beberapa infrastuktur jalan yang belum sempurna sampai ke tingkat padukuhan. Ditinjau dari kondisi alamnya, sebagian besar wilayah padukuhan di Kalurahan Sendangsari berada di kawasan perbukitan yang pengairannya masih kurang atau bisa juga dikatakan lahan tadah hujan sehingga hanya cocok ditanami tanaman keras yang usia produktifnya harus menunggu lama. Sedangkan lahan yang ada di lingkungan pemukiman/perkampungan, di samping didirikan rumah untuk tempat tinggal juga hidup dan atau ditanami tanaman keras seperti pohon kelapa, jati, mahoni, serta pohon buah-buahan. Sumber Daya Alam yang ada di Kalurahan Sendangsari berupa tambang material alam pasir progo dan batu putih karena wilayah Kalurahan Sendangsari dilalui aliran Sungai Progo dan juga sebagian besar wilayah perbukitan batu kapur.

 

  • 2.      Perumahan, Sarana atau Prasarana Pemukiman dan Insfrastruktur Umum

Perumahan, Sarana atau pasarana Pemukiman dan Infrastruktur Umum mencakup kondisi fisik perumahan, jalan, pelayanan jaringan utilitas, ruang terbuka hijau, dan fasilitas umum. Beberapa hal tersebut dirincikan secara detail pada penjelasan sebagai berikut.

 

a.      Kondisi Fisik Perumahan

Rata-rata penduduk di Kalurahan Sendangsari yang sudah berkeluarga mampu mendirikan rumah untuk tempat tinggal mereka sekeluarga meskipun masih sederhana dengan bentuk dan type bangunan bervariasi tergantung tingkat ekonomi, ada yang sudah berbentuk bangunan permanen maupun yang masih berupa bangunan semi permanen. Sebagian besar penduduk Kalurahan Sendangsari menempati satu rumah yang dihuni oleh dua kepala keluarga, karena rata-rata orang tua atau yang sudah jompo dirawat sekaligus tinggal bersama keluarga anaknya atau keluarga anak tinggal mengindung di rumah orang tua.  Kondisi permukiman di Kalurahan Sendangsari hampir sebagian besar sudah bisa disebut layak huni dan memenuhi standar pendirian bangunan tempat tinggal. Namun masih ada juga beberapa kepala keluarga yang menempati rumah tinggal tidak layak huni dikarenakan keadaan ekonomi masih berada digaris kemisikinan yang memang tidak memungkinkan untuk membangun rumah layak huni.

Ada sekitar 77 kepala keluarga yang menempati rumah atau bangunan permanen namun masih sederhana dan sangat minim fasilitas utama sebuah rumah hunian. Tata ruang bangunan di Kalurahan Sendangsari juga masih jauh dari memadai dan atau teratur, dikarenakan tidak adanya program dari pemerintah daerah dalam hal penataan bangunan permukiman penduduk. Selain itu belum diaturnya tata ruang pendirian permukiman atau tempat tinggal dimasing-masing wilayah sehingga masyarakat atau penduduk membangun rumah hanya berdasar kepemilikan lahan yang sebagian besar berupa lahan pekarangan atau pertanian warisan orang tua, kadang tidak sesuai peruntukan untuk hunian namun karena tidak memiliki lahan selain hasil pembagian tadi terpaksa disitulah dibangun tempat tinggal.

 

b.      Jalan

Kalurahan Sendangsari dilalui oleh Jalan Nasional yang menghubungkan Jalan Nasional lintas tengah (Jl. Wates) dengan Jl. Nasional lintas selatan (Jl. Srandakan) juga beberapa jalan kabupaten yang menghubungkan wilayah-wilayah yang ada di Kalurahan Sendangsari dengan wilayah-wilayah kelurahan dan atau kecamatan yang berbatasan dengan Kalurahan Sendangsari. Pada umumnya kondisi jalan-jalan di Kalurahan Sendangsari sudah baik dengan konstruksi aspal dan konstruksi corblock untuk jalan-jalan lingkungan di padukuhan walaupun masih ada beberapa yang sudah rusak terutama jalan-jalan yang ada di wilayah perbukitan karena memang kontur tanah yang labil serta kurangnya pemeliharaan.

 

c.       Pelayanan Jaringan Utilitas

Pelayanan jaringan ulititas terdiri dari kondisi jaringan drainase, kondisi jaringan listrik, kondisi jaringan telepon, dan pelayanan air bersih, sanitasi, dan persampahan. Untuk lebih jelasnya mengenai pelayanan jaringan utilitas tersebut diuraikan sebagai berikut.

 

1)      Kondisi Jaringan Drainase

Jaringan drainase yang terdapat di Kalurahan Sendangsari masih banyak yang belum sempurna dan bahkan ada yang belum dibangun sehingga apabila terjadi hujan lebat akan terjadi banyak genangan air dan kadang bisa memakan waktu lama untuk bisa meresap dan kering. Jika ada saluran drainase, itupun hanya berupa selokan-selokan kecil yang tidak tertata dan terawat.

 

2)      Kondisi Jaringan Listrik

Untuk jaringan listrik wilayah Kalurahan Sendangsari hampir seluruh wilayah telah teraliri melalui jaringan PLN yang sudah sampai ke wilayah-wilayah padukuhan. Sehingga semua penduduk sudah menggunakan listrik, baik sebagai penerangan maupun untuk keperluan rumah tangga lainnya serta untuk mendukung kegiatan-kegiatan ekonomi produktif.

 

3)      Kondisi Jaringan Telepon

Wilayah Kalurahan Sendangsari masih terbatas dan belum bisa memanfaatkan secara penuh fasilitas telepon, jaringan telepon baru menjangkau wilayah yang hanya dilalui oleh jaringan induk yang saat ini baru sepanjang jalan protokol (Jl. Sedayu) sehingga akses penduduk Kalurahan Sendangsari untuk berkomunikasi dengan dunia luar mayoritas masih menggunakan telepon seluler (HP). Memang untuk jangkauan telepon seluler sudah bisa dinikmati diseluruh wilayah karena beberapa Base Transciever System (BTS) dari beberapa operator telah dibangun di wilayah Kalurahan Sendangsari.

 

4)      Pelayanan Air Bersih, Sanitasi dan Persampahan

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari penduduk Kalurahan Sendangsari mengandalkan dari sumber air tanah melalui sumur-sumur yang dibuat di lingkungan rumah tempat tinggal. Sehingga untuk daerah perbukitan jika memasuki musim kemarau sering mengalami kendala karena sumur-sumur air berkurang debitnya atau bahkan menjadi kering. Layanan air bersih dari PDAM belum bisa menjangkau seluruh wilayah Sendangsari karena masih terbatasnya insfrastruktur.

Jaringan sanitasi juga masih sederhana tetapi sudah mengikuti ataupun sesuai dengan aturan maupun standar kesehatan dalam membangun sanitasi yang dianjurkan pemerintah. Demikian juga dengan pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga masih sangat sederhana dan terkesan apa adanya dengan hanya dibuatkan lubang-lubang galian tanah untuk membuang sampah dan limbah rumah tangga.

 

d.      Ruang Terbuka Hijau

Untuk wilayah Kalurahan Sendangsari secara khusus belum tersedia insfrastruktur ruang terbuka hijau dikarenakan sebagian besar tanah kas Kalurahan berupa lahan pertanian. Saat ini yang bisa dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau adalah tanah lapang dan atau lapangan olah raga yang bisa digunakan untuk mengadakan kegiatan olah raga maupun kegiatan umum lainnya. Sehingga secara tidak langsung peruntukannya juga terganggu dan belum bisa disebut sebagai ruang terbuka hijau.

 

e.       Fasilitas Umum

Fasilitas umum yang ada di wilayah Kalurahan Sendangsari diantaranya adalah fasilitas pendidikan, kesehatan, perekonomian dan perdagangan, dan tempat peribadatan. Untuk lebih jelasnya mengenai fasilitas umum dijelaskan dalam uraian sebagai berikut.

 

1)      Fasilitas Pendidikan

Di wilayah Kalurahan Sendangsari sudah tersedia fasilitas pendidikan formal mulai dari PAUD sampai dengan Sekolah Menengah Pertama. Fasilitas pendidikan non formal dan panti asuhan serta fasilitas pendidikan khusus untuk penyandang disabilitas juga ada di Kalurahan Sendangsari.

 

2)      Fasilitas Kesehatan

Fasilitas kesehatan yang ada di wilayah Kalurahan Sendangsari masih sangat kurang karena baru terdapat posyandu, puskesmas, klinik pengobatan, dan bidan praktek. Untuk mengakses fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dan dan modern seperti Rumah Sakit, penduduk Kalurahan Sendangsari harus ke kota kabupaten. Meskipun secara umum tidak ada gangguan kesehatan yang berskala besar (semisal wabah penyakit) namun hal tersebut perlu diwaspadai. Oleh karena itu untuk mengantisipasi hal tersebut, sarana kesehatan yang lebih lengkap dan modern seperti Rumah Sakit perlu dibangun untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan penduduk di wilayah Kalurahan Sendangsari dan kalurahan-kalurahan terdekat.

 

3)      Fasilitas Perekonomian dan Perdagangan

Fasilitas perekonomian dan perdagangan yang ada di Kalurahan Sendangsari belum bisa dikatakan memadai terutama perekonomian dan perdagangan rakyat, misalnya pasar dan sentra-sentra perekonomian.

 

4)      Fasilitas Tempat Peribadatan

Tempat peribadatan di wilayah Kalurahan Sendangsari sudah memadai karena disetiap padukuhan setidaknya sudah ada masjid dan musholla karena memang penduduknya mayoritas muslim. Berikut ini digambarkan sebaran tempat peribadatan yang ada di Kalurahan Sendangsari.

                       Fasilitas Peribadatan di Kalurahan Sendangsari

No

Padukuhan

Masjid

Mushola

Gereja

Kelenteng

Wihara

1

Benyo

2

2

-

-

2

Jetis

1

2

-

-

3

Panjangan

1

1

-

-

4

Kayen

2

3

-

-

5

Beji Wetan

1

1

-

-

6

Beji Kulon

2

2

-

-

7

Gupakwarak

1

7

-

-

8

Dadapbong

1

2

-

-

9

Krebet

2

2

-

-

10

Kabrokan Wetan

1

1

-

-

11

Kabrokan Kulon

1

1

-

-

12

Kamijoro

2

2

1

-

13

Kunden

1

2

-

-

14

Manukan

2

1

-

-

15

Jaten

1

1

-

-

16

Mangir Lor

1

1

-

-

17

Mangir Tengah

-

3

-

-

18

Mangir Kidul

-

2

-

-

 

Jumlah

22

35

-

-

Profil Kalurahan Budaya Sendangsari

Profil Kalurahan Budaya Sendangsari

  KALURAHAN SENDANGSARI   Kalurahan merupakan sebuah persekutuan hukum pribumi yang terkecil , ya itu meliputi ; k ekuasaan sendiri da...