PADUKUHAN PANJANGAN
Gambar: Pendopo Padukuhan Panjangan
Padukuhan Panjangan merupakan salah
satu padukuhan yang ada di wilayah sebelah utara dari balai Desa Sendangsari,
Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta. Padukuhan Panjangan
memiliki luas wilayah sekitar 15 hectar dan terbagi menjadi 6 (enam) RT. Secara
administratif, padukuhan panjangan berbatasan langsung dengan padukuhan
Kalakijo yang termasuk wilayah kalurahan Guwosari disebelah timur, padukuhan
Ngeblak disebelah selatan, padukuhan jetis disebelah barat dan berbatasan
dengan padukuhan kedung di sebelah utara. Padukuhan Panjangan saat ini dipimpin
oleh Bapak Ngatimin, A.md sebagai kepala wilayah Padukuhan Panjangan.
Menurut cerita, sejarah asal muasal
nama padukuhan panjangan masih belum ditemukan, karena belum adanya sumber
informasi yang dapat diakses kebenarannya. Namun menurut cerita dari sesepuh
padukuhan panjangan, nama panjangan pada jaman dahulu diambil dari legenda 3
(tiga) orang Punggawa yang berasal dari kerajaan majapahit dahulu kala. Tiga
orang Punggawa tersebut adalah Kiai Panjang Rejo, Kiai Panjang Gati dan Kiai
Panjang Kenanga yang merupakan sahabat dari Panembahan Bodo.
Pada jaman dahulu, zaman disaat penjajahan Jepang banyak terjadi kerja rodi (kerja paksa). Lalu ketiga Punggawa tersebut memutuskan untuk pergi ke daerah pegunungan Makam Sewu untuk menyusun strategi guna menghadapi para penjajah yang saat kejam dan menyengsarakn rakyat. Kemudian tanpa berfikir panjang, salah satu dari Punggawa tersebu yaitu Kiai Panjang Rejo yang sangat sakti dapat lolos dari kepungan para penjajah.selain itu Kiai Panjang Rejo memiliki tombak yang sakti mandraguna yang bernama Tombak Karang Welang. Dikarenakan pada saat itu banyak terjadi kerja rodi/ kerja paksa, para petani dipekerjakan dan tidak diberi upah yang kemudian hasil panen tersebut diserahkan pada penjajah sehingga banyak terjadi kelaparan bahkan tidak sedikit dari masyarakat yang menderita kelaparan kemudia meninggal dunia. Maka dari itu untuk menghindari hal tersebut Kiai Panjang Rejo melakukan tapa brata di grojokan selo (untuk sekarang kerebardaannya didekat dengan makam sewu). Setelah tiga hari tiga malam beliau mendapat petunjuk dari Sang Hyang Maha Tunggal untuk *babat alas* berjalan sambil menggariskan menggunakan Tombak Karang Welang mengelilingi daerah diwilayah kampungnya. Alhasil dengan laku tersebut alas tempat tinggal Kiai Panjang Rejo yang semula terlihat subur menjadi kelihatan kering kerontang dimata penjajah. Sehingga dapat mengelabuhi para penjajah dan membuat desa tersebut terbebas dari penjajah. seiring berjalannya waktu lama kelamaan bekas dari coretan garis Tombak Karang Welang milik Kiai Panjang Rejo tersebut menjadi sungai yang sampai sekarang difungsikan sebagai tempat aliran air untuk irigasi. Selain hal tersebut sungai/parit itu menjadi perbatasan/ patokan untuk padukuhan Panjangan. Tidak ada yang tau pasti akhir dari perjalanan Kiai Panjang Rejo selanjutnya. Kemudian saat beliau wafat, beliau dikebumikan dengan makam tersendiri dipersawahan padukuhan Panjangan tepatnya terletak diwilayah RT 05 padukuhan Panjangan. Konon dari mitos tersebutlah asal muasal nama padukuhan Panjangan terlahir. Padukuhan panjangan juga memiliki potensi budaya yang cukup menarik dan masih dilestarikan hingga saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar