PADUKUHAN KAYEN
Gambar: Gapura Padukuahan KayenSebelum tahun 1937,
padukuhan Kayen hanyalah tanah belantara yangtandus dan gersang, tidak ada air
atau sumur bahkan mata air untuk kehidupan.Padasuatuhari,datanglah sepasang suami-istri
dari wilayah Kulon Progo,tepatnya di padukuhan Paten, Ngentak Rejo, Kulon
Progo, DIY. Bernama Pawiro Yudo. Setelah lama menetap,
lahirlah beberapa anak mereka, di antaranya; Karyo Menggolo dan Kariyo Dimejo. Karyo Menggolo mempunyai
anak yaitu Karyo Sentono dan Omo Senjoyo. Ketika semua anaknya
telah menginjak dewasa, ada salah satu anaknya yang melamar menjadi abdi Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat yang bernama Karyo Sentono. Jabatan terakhirnya adalah uluulu.
Setelah lama mengabdi, beliau menikah dan lahirlah seorang anak laki-laki yang
diberi nama Setro Setomo.
Tujuh belas tahun kemudian, di barat
rumah Karyo Sentono radius 300 meter terjadilah keajaiban alam di daerah
dataran rendah. Sebuah mata air muncul dengan sangat deras sampai meluap di
sekitar pekarangan warga. Karena bingung dan panik, Karyo Sentono berteriak-teriak.
Warga yang mendengarnya langsung mendekat ke lokasi kejadian. Ketika melihat
kejadian tersebut tampak raut wajah mereka bercampur banyak rasa, antara
senang, haru, dan cemas. Namun semua berteriak, “khayun…khayun… (bahasa
arab, berarti hidup), urip…urip…”Karena
kejadian tersebut, dengan spontan masyarakat menyebut wilayahnya pedukuhan
Khayun, atau yang sekarang biasa disebut atau ditulis pedukuhan Kayen. Namun
dengan keadaan mata air yang masih keluar dengan sangat deras tadi, Karyo
Sentono dan warga sekitar masih bingung bagaimana cara mengendalikannya.
Akhirnya dengan kesepakatan
masyarakat, Karyo Sentono diminta untuk melaporkan kejadian tersebut kepihak Keraton Ngayogyakata Hadiningratdengan
alasan beliau adalah abdi dalem di sana. Setelah adanya laporan dari Karyo
Sentono, datanglah pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke lokasi kejadian.
Kemudian, entah dengan alasanapa, ditutuplah mata air yang keluar dengan sangat
deras tadi dengan salah satualat musik (gamelan) yang disebut Gong Ledek
(dinamai gong ‘Ledek’ karena diwilayah tersebut sering ada pengamen ledek atau mbarang ledek dari GunungKidul yang sering bermalam dari satu
tempat ke tempat lain). Akhirnya, setelahditutup dengan gong tersebut, mata air
yang deras itu bisa dikendalikan. Karena kejadian tersebut, pihak Keraton
Nayogyakarto Hadinigrat memberi nama tempatmata air itu dengan Sendang
Ngembel’, yang sampai sekarang airnya masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat
sekitar.
Berdasarkan kejadian tersebut, berdirilah pedukuhan‘Khayun’atau‘Kayen’ sejak tanggal 03 Mei 1937 dengan kepala dukuhnya yang pertama Bapak Serto Setomo, anak kandung dari Karyo Sentono, cucu buyut dari Pawiro Yudo (cikal bakal pedukuhan Khayun atau Kayen). Sumber cerita berasal dari kasepuhan dan dari anak dukuh pertama padukuhan Kayen. Letak geografis Padukuhan Kayen , memiliki wilayah bagian barat perbatasan dengan Padukuhan Beji Wetan, wilayah utara perbatasan dengan Padukuhan Bungsing Kalurahan Guwosari, wilayah timur perbatasan dengan Kedung Kalurahan Guwosari, wilayah selatan perbatasan dengan Padukuhan Jetis, kepala kewilayahan Kayen dipimpin oleh Bapak Rusmidi. Kayen memiliki beragam kebudayaan, diantaranya yaitu; Adat dan Tradisi, Kesenian dan Permainan Rakyat, Kerajinan Kuliner dan Obat Tradisional, Bahasa Sastra dan Aksara Jawa, serta Penataan Ruang Bangunan dan Warisan Budaya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar