Senin, 01 Juli 2024

Profil Padukuhan Kayen

 PADUKUHAN KAYEN 

Gambar: Gapura Padukuahan Kayen

 

Sebelum tahun 1937, padukuhan Kayen hanyalah tanah belantara yangtandus dan gersang, tidak ada air atau sumur bahkan mata air untuk kehidupan.Padasuatuhari,datanglah sepasang suami-istri dari wilayah Kulon Progo,tepatnya di padukuhan Paten, Ngentak Rejo, Kulon Progo, DIY. Bernama Pawiro Yudo. Setelah lama menetap, lahirlah beberapa anak mereka, di antaranya; Karyo Menggolo dan Kariyo Dimejo. Karyo Menggolo mempunyai anak yaitu Karyo Sentono dan Omo Senjoyo. Ketika semua anaknya telah menginjak dewasa, ada salah satu anaknya yang melamar menjadi abdi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang bernama Karyo Sentono. Jabatan terakhirnya adalah uluulu. Setelah lama mengabdi, beliau menikah dan lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Setro Setomo.

Tujuh belas tahun kemudian, di barat rumah Karyo Sentono radius 300 meter terjadilah keajaiban alam di daerah dataran rendah. Sebuah mata air muncul dengan sangat deras sampai meluap di sekitar pekarangan warga. Karena bingung dan panik, Karyo Sentono berteriak-teriak. Warga yang mendengarnya langsung mendekat ke lokasi kejadian. Ketika melihat kejadian tersebut tampak raut wajah mereka bercampur banyak rasa, antara senang, haru, dan cemas. Namun semua berteriak, “khayunkhayun… (bahasa arab, berarti hidup), urip…urip…”Karena kejadian tersebut, dengan spontan masyarakat menyebut wilayahnya pedukuhan Khayun, atau yang sekarang biasa disebut atau ditulis pedukuhan Kayen. Namun dengan keadaan mata air yang masih keluar dengan sangat deras tadi, Karyo Sentono dan warga sekitar masih bingung bagaimana cara mengendalikannya.

Akhirnya dengan kesepakatan masyarakat, Karyo Sentono diminta untuk melaporkan kejadian tersebut kepihak Keraton Ngayogyakata Hadiningratdengan alasan beliau adalah abdi dalem di sana. Setelah adanya laporan dari Karyo Sentono, datanglah pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke lokasi kejadian. Kemudian, entah dengan alasanapa, ditutuplah mata air yang keluar dengan sangat deras tadi dengan salah satualat musik (gamelan) yang disebut Gong Ledek (dinamai gong ‘Ledek’ karena diwilayah tersebut sering ada pengamen ledek atau mbarang ledek dari GunungKidul yang sering bermalam dari satu tempat ke tempat lain). Akhirnya, setelahditutup dengan gong tersebut, mata air yang deras itu bisa dikendalikan. Karena kejadian tersebut, pihak Keraton Nayogyakarto Hadinigrat memberi nama tempatmata air itu dengan Sendang Ngembel’, yang sampai sekarang airnya masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Berdasarkan kejadian tersebut, berdirilah pedukuhan‘Khayun’atau‘Kayen’ sejak tanggal 03 Mei 1937 dengan kepala dukuhnya yang pertama Bapak Serto Setomo, anak kandung dari Karyo Sentono, cucu buyut dari Pawiro Yudo (cikal bakal pedukuhan Khayun atau Kayen). Sumber cerita berasal dari kasepuhan dan dari anak dukuh pertama padukuhan Kayen. Letak geografis Padukuhan Kayen , memiliki wilayah bagian barat perbatasan dengan Padukuhan Beji Wetan, wilayah utara perbatasan dengan Padukuhan Bungsing Kalurahan Guwosari, wilayah timur perbatasan dengan Kedung Kalurahan Guwosari, wilayah selatan perbatasan dengan Padukuhan Jetis, kepala kewilayahan Kayen dipimpin oleh Bapak Rusmidi. Kayen memiliki beragam kebudayaan, diantaranya yaitu; Adat dan Tradisi, Kesenian dan Permainan Rakyat, Kerajinan Kuliner dan Obat Tradisional, Bahasa Sastra dan Aksara Jawa, serta Penataan Ruang Bangunan dan Warisan Budaya.

Profil Padukuhan Panjangan

 PADUKUHAN PANJANGAN

Gambar: Pendopo Padukuhan Panjangan

 

Padukuhan Panjangan merupakan salah satu padukuhan yang ada di wilayah sebelah utara dari balai Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta. Padukuhan Panjangan memiliki luas wilayah sekitar 15 hectar dan terbagi menjadi 6 (enam) RT. Secara administratif, padukuhan panjangan berbatasan langsung dengan padukuhan Kalakijo yang termasuk wilayah kalurahan Guwosari disebelah timur, padukuhan Ngeblak disebelah selatan, padukuhan jetis disebelah barat dan berbatasan dengan padukuhan kedung di sebelah utara. Padukuhan Panjangan saat ini dipimpin oleh Bapak Ngatimin, A.md sebagai kepala wilayah Padukuhan Panjangan.

Menurut cerita, sejarah asal muasal nama padukuhan panjangan masih belum ditemukan, karena belum adanya sumber informasi yang dapat diakses kebenarannya. Namun menurut cerita dari sesepuh padukuhan panjangan, nama panjangan pada jaman dahulu diambil dari legenda 3 (tiga) orang Punggawa yang berasal dari kerajaan majapahit dahulu kala. Tiga orang Punggawa tersebut adalah Kiai Panjang Rejo, Kiai Panjang Gati dan Kiai Panjang Kenanga yang merupakan sahabat dari Panembahan Bodo.

Pada jaman dahulu, zaman disaat penjajahan Jepang banyak terjadi kerja rodi (kerja paksa). Lalu ketiga Punggawa tersebut memutuskan untuk pergi ke daerah pegunungan Makam Sewu untuk menyusun strategi guna menghadapi para penjajah yang saat kejam dan menyengsarakn rakyat. Kemudian tanpa berfikir panjang, salah satu dari Punggawa tersebu yaitu Kiai Panjang Rejo yang sangat sakti dapat lolos dari kepungan para penjajah.selain itu Kiai Panjang Rejo memiliki tombak yang sakti mandraguna yang bernama Tombak Karang Welang. Dikarenakan pada saat itu banyak terjadi kerja rodi/ kerja paksa, para petani dipekerjakan dan tidak diberi upah yang kemudian hasil panen tersebut diserahkan pada penjajah sehingga banyak terjadi kelaparan bahkan tidak sedikit dari masyarakat yang menderita kelaparan kemudia meninggal dunia. Maka dari itu untuk menghindari hal tersebut Kiai Panjang Rejo melakukan tapa brata di grojokan selo (untuk sekarang kerebardaannya didekat dengan makam sewu). Setelah tiga hari tiga malam beliau mendapat petunjuk dari Sang Hyang Maha Tunggal untuk *babat alas* berjalan sambil menggariskan menggunakan Tombak Karang Welang mengelilingi daerah diwilayah kampungnya. Alhasil dengan laku tersebut alas tempat tinggal Kiai Panjang Rejo yang semula terlihat subur menjadi kelihatan kering kerontang dimata penjajah. Sehingga dapat mengelabuhi para penjajah dan membuat desa tersebut terbebas dari penjajah. seiring berjalannya waktu lama kelamaan bekas dari coretan garis Tombak Karang Welang milik Kiai Panjang Rejo tersebut menjadi sungai yang sampai sekarang difungsikan sebagai tempat aliran air untuk irigasi. Selain hal tersebut sungai/parit itu menjadi perbatasan/ patokan untuk padukuhan Panjangan. Tidak ada yang tau pasti akhir dari perjalanan Kiai Panjang Rejo selanjutnya. Kemudian saat beliau wafat, beliau dikebumikan dengan makam tersendiri dipersawahan padukuhan Panjangan tepatnya terletak diwilayah RT 05 padukuhan Panjangan. Konon dari mitos tersebutlah asal muasal nama padukuhan Panjangan terlahir. Padukuhan panjangan juga memiliki potensi budaya yang cukup menarik dan masih dilestarikan hingga saat ini. 

Profil Padukuahan Jetis

 PADUKUHAN JETIS

Gambar: Gapura Padukuhan Jetis

 Padukuhan Jetis merupakan padukuhan yang ada di Kalurahan Sendangsari. Secara geografis Padukuhan Jetis merupakan padukuhan yang paling berdekatan dengan kalurahan Sendangsari. Padukuhan Jetis terbagi menjadi 6 RT, dan memiliki luas wilayah sekitar 36 hectar. Padukuhan Jetis berbatasan langsung disebelah timur dengan wilayah Padukuhan Panjangan dan Pandak. Kemudian untuk sebelah utara berbatasan dengan wilayah Padukuhan Kayen, sebelah barat dengan Padukuhan Kunden dan sebelah selatan berbatan langsung dengan Padukuhan Benyo. Saat ini Padukuhan Jetis dipimpin oleh Bapak Heksa Sunarya A.Md.

            Menurut tutur cerita dari sesepuh padukuhan Jetis, asal usul nama Jetis terjadi sekitar abad 15. Pada saat itu kanjeng Panembahan Bodo yang merupakan seorang Sultan, nama lain dari kanjeng Panembahan Bodo yaitu Sultan Trenggono yang merupakan keturunan seorang Raja sedang melakukan syiar agama yang melewati padukuhan Jetis. Pada waktu itu kanjeng Panembahan Bodo beserta para santrinya keliling melakukan syiar agama disekitar wilayah padukuhan Kauman. Kanjeng Panembahan Bodo melakukan perjalanan dari arah Padukuhan Kauman menuju arah Padukuhan Pijenan. Pada jaman dahulu wilayah Pijenan masih berupa hutan, yang pada jaman dahulu terkenal dengan sebutan hutan Wijen. Lalu bergesernya waktu para sesepuh menyebutnya dengan daerah Pawijenan, yang sampai sekarang dikenal dengan nama Pijenan. Kemudian lanjut ke wilayah Ngeblak dan tiba di wilayah Jetis.

Konon cerita pada waktu itu padukuhan Jetis merupakan dataran paling rendah. Karena letaknya yang rendah ketika musim hujan menjadi tempat yang penuh dengan genangan air. Memiliki udara yang dingin, sehingga ketika musim hujan para sesepuh sangat merasakan dingin. Keadaan yang masih berupa hutan dataran rendah dan memiliki suasana yang dingin para sesepuh yang singgah di padukuhan Jetis sering mengatakan dalam bahasa jawa “panggonane atis” yang dalam bahasa indonesia berarti tempat yang sangat dingin. Dengan kata lain pemberian nama Jetis, dilatarbelakangi dengan keadaan wilayah Jetis pada jaman dahulu. Padukuhan Jetis memiliki potensi budaya yang cukup menarik dan masih dilestarikan hingga saat ini. 

Profil Kalurahan Budaya Sendangsari

Profil Kalurahan Budaya Sendangsari

  KALURAHAN SENDANGSARI   Kalurahan merupakan sebuah persekutuan hukum pribumi yang terkecil , ya itu meliputi ; k ekuasaan sendiri da...