Menurut tutur cerita sesepuh yang
berkembang di masyarakat, sejarah muasal nama padukuahan Benyo berkaitan erat
dengan sejarah dari Nyai Brintik yang makamnya ada di Karang Padukuhan Kauman
Wijirejo Pandak Bantul. Nyai Brintik merupakan istri dari Panembahan Bodo yang
di makamkan di Makam Sewu, Wijirejo, Pandak, Bantul. Nama Benyo berasal dari
kata “beno” dalam bahasa jawa artinya adalah “banjir”. Namun seiring
berjalannya waktu, terjadi pergeseran penyebutan ditengah masyarakat setempat
kata “beno” menjadi “benyo”. Kono katanya cerita tersebut bermula pada saat
Nyai Brintik wafat dan akan dimakamkan di pemakaman Makam Sewu. Semasa hidupnya
Nyai Brintik yang tinggal di Kauman wilayah Kalurahan Gilangharjo, ketika wafat
akan dimakamkan di MakamSewu tepat disamping makam suaminya yaitu Ki Panembahan
Bodo.
Namun diperjalanan menuju pemakaman Makam Sewu saat akan menyebrangi kali Bedog pada saat itu sedang dalam kondisi banjir yang luar biasa, banjir dalam bahasa jawa beno. Karena itu Nyai Brintik di makamkan di sebelah barat padukuhan Kauman yang saat ini dinamakan dengan padukuhan Karang. Pada saat itu timbul banyak pertanyaan kenapa makam Nyai Brintik tidak di makamkan disamping suaminya yaitu ki Panembahan Bodo di Makam Sewu. Sebuah pertanyaan dalam bahasa jawa. “Ngopo Nyai Brintik kok ora dimakamke amor Panembahan Bodo, kok malah di makamke nang papan kene?”, lalu dijawab oleh beberapa tokoh dengan jawaban didalam bahasa jawa “ora iso nyabrang kali bedog karang beno”. Kata karang beno tersebut memiliki arti dalam bahasa (karang= karena, beno=banjir). Sejak saat itu kata karang dan beno menjadi nama dua wilayah di utara dan selatan sungai Bedog. Wilayah selatan tempat Nyai Brintik dimakamkan menjadi padukuhan Karang, dan sebelah utara sungai Bedog menjadi padukuhan Benyo yang berasal dari kata Beno. Padukuhan Benyo memiliki potensi budaya yang cukup menarik dan masih dilestarikan hingga saat ini. Adapun tradisi dan aneka budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar