Senin, 01 Juli 2024

Profil Padukuhan Benyo

PADUKUHAN BENYO

Gambar: Gapura Padukuhan Benyo

Padukuhan Benyo merupakan padukuhan yang ada di wilayah Kalurahan Sendangsari. Padukuhan Benyo memiliki luas wilayah yang cukup luas yaitu 37,8 hectar, dan terbagi di sembilan RT. Secara administratif kalurahan, Padukuhan Benyo berbatasan langsung dengan padukuhan Pijenan yang merupakan masuk wilayah Kalurahan Wijirejo dan padukuhan Jetis untuk wilayah Kalurahan Sendangsari. Kemudian untuk batas wilayah disebelah utara berbatasan langsung dengan padukuhan Kunden, lalu berbatasan langsung dengan padukuhan Kunden untuk sebelah barat dan diikuti dengan batas Sungai Bedok untuk wilayah di sebelah Selatan.Kepala kewilayahan Padukuhan Benyo dipimpin oleh Bapak Surinto, A.Md.


Menurut tutur cerita sesepuh yang berkembang di masyarakat, sejarah muasal nama padukuahan Benyo berkaitan erat dengan sejarah dari Nyai Brintik yang makamnya ada di Karang Padukuhan Kauman Wijirejo Pandak Bantul. Nyai Brintik merupakan istri dari Panembahan Bodo yang di makamkan di Makam Sewu, Wijirejo, Pandak, Bantul. Nama Benyo berasal dari kata “beno” dalam bahasa jawa artinya adalah “banjir”. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran penyebutan ditengah masyarakat setempat kata “beno” menjadi “benyo”. Kono katanya cerita tersebut bermula pada saat Nyai Brintik wafat dan akan dimakamkan di pemakaman Makam Sewu. Semasa hidupnya Nyai Brintik yang tinggal di Kauman wilayah Kalurahan Gilangharjo, ketika wafat akan dimakamkan di MakamSewu tepat disamping makam suaminya yaitu Ki Panembahan Bodo. 

Namun diperjalanan menuju pemakaman Makam Sewu saat akan menyebrangi kali Bedog pada saat itu sedang dalam kondisi banjir yang luar biasa, banjir dalam bahasa jawa beno. Karena itu Nyai Brintik di makamkan di sebelah barat padukuhan Kauman yang saat ini dinamakan dengan padukuhan Karang. Pada saat itu timbul banyak pertanyaan kenapa makam Nyai Brintik tidak di makamkan disamping suaminya yaitu ki Panembahan Bodo di Makam Sewu. Sebuah pertanyaan dalam bahasa jawa. “Ngopo Nyai Brintik kok ora dimakamke amor Panembahan Bodo, kok malah di makamke nang papan kene?”, lalu dijawab oleh beberapa tokoh dengan jawaban didalam bahasa jawa “ora iso nyabrang kali bedog karang beno”. Kata karang beno tersebut memiliki arti dalam bahasa (karang= karena, beno=banjir). Sejak saat itu kata karang dan beno menjadi nama dua wilayah di utara dan selatan sungai Bedog. Wilayah selatan tempat Nyai Brintik dimakamkan menjadi padukuhan Karang, dan sebelah utara sungai Bedog menjadi padukuhan Benyo yang berasal dari kata Beno. Padukuhan Benyo memiliki potensi budaya yang cukup menarik dan masih dilestarikan hingga saat ini. Adapun tradisi dan aneka budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Profil Kalurahan Budaya Sendangsari

Profil Kalurahan Budaya Sendangsari

  KALURAHAN SENDANGSARI   Kalurahan merupakan sebuah persekutuan hukum pribumi yang terkecil , ya itu meliputi ; k ekuasaan sendiri da...